Langkah, Gerak, dan Ingatan: Silek Tradisi Kembali di Ajarkan di SMAN 1 Banuhampu
Penulis: Aurelia Fitri & Ziqra Aprilyani
Banuhampu – Semakin majunya budaya di masa sekarang, tentunya membuat orang-orang semakin lebih fokus terhadap kemajuan budaya yang terjadi di masa kini. Namun, hal itu membuat orang-orang mulai melupakan tradisi yang telah ada sejak lama.
Silek tradisi juga termasuk salah satu dalam budaya tradisional yang mulai dilupakan oleh orang-orang dan anak muda generasi sekarang. Dalam beberapa alasan tersebut, yang menjadikan SMAN 1 Banuhampu mulai memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang mulai dilupakan oleh generasi sekarang.
Kegiatan silek tradisi di SMAN 1 Banuhampu mulai diadakan karena para guru menyadari kurangnya minat para siswa-siswi terhadap silek tradisi dan lebih memilih bela diri dari negara lain atau lebih modern. Dari masalah itu, dimulailah para guru berdiskusi untuk membuat siswa-siswi di SMAN 1 Banuhampu untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Dimulainya kegiatan silek tradisi langsung diberi contoh oleh pengajar silek tradisi secara langsung kepada seluruh siswa-siswi kelas X (29/1/2026).
Bermula dari diadakannya launching pertama pada tanggal 24 Januari 2026, Sabtu. Lalu dilanjutkan dengan pertemuan kedua, yang diadakan pada tanggal 30 Januari 2026, Kamis. Dengan didatangkan langsung pelatihnya, Rijal dari Perguruan perisai Minang.
Beliau mengajarkan beberapa hal mendasar tentang asal muasal terbentuknya silek tradisi Minang, bagaimana para pendekar silek menjaga daerah Minangkabau agar tidak dijajah. Setelah menjelaskan asal muasal terbentuknya silek tradisi Minang, Bapak Rijal mulai mengajarkan teknik-teknik dasar silat, dimulai dari adab sebelum memulai latihan, dan hal-hal mendasar.
Silek tradisi ini juga program yang diinisiasi oleh wakil gubernur Sumbar yang juga Ketua Umum IPSI Sumbar, Vasko Ruseimy. Dalam rangka untuk menghidupkan kembali tradisi bela diri yang telah mulai dilupakan di Minang, agar mengetahui bahwa masyarakat Minang juga punya tradisi tersendiri.
SMAN 1 Banuhampu, memutuskan untuk menjadikan silek tradisi ini menjadi ekstrakurikuler wajib bagi siswa-siswi kelas X, yang diadakan setiap hari Kamis selesai shalat ashar. Hal itu bertujuan agar, mengajarkan para siswa siswinya untuk belajar tradisi daerah mereka terdahulu.
Para siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini, banyak yang cukup merasa kebingungan dan merasa agak asing dengan kegiatan ini, karena baru pertama kalinya mereka belajar seni bela diri khas daerah mereka.
Tetapi, tak luput juga beberapa siswa-siswi yang terlihat sangat antusias dengan diadakannya silek tradisi ini karena menganggap bahwa ini suatu hal yang perlu dipelajari, selain untuk tahu tentang seni bela diri khas daerah mereka dan sekalian juga belajar untuk meningkatkan belajar mereka untuk membela diri.
“Pas pertemuan silek tradisi waktu itu, rasanya aku bangga banget bisa ikut gituan, karena sekalian belajar seni bela diri.” Ujar salah seorang siswi yang merasa senang dengan diadakannya kegiatan itu, Nesya Amira salah seorang siswi dari kelas X.E-7 yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, pada jum’at (30/1/2026).
“Karena ikut pas aku coba coba ikut silek tradisi itu, aku jadi belajar hal baru seperti adab sebelum memulai latihan.” Ujar seorang siswi dengan riang, keysa zhulaikha sebagai salah satu siswi yang berasal dari kelas X.E-5 yang mengikuti kegiatan tersebut, pada jum’at (30/1/2026).
Dengan diadakannya silek tradisi, para siswa-siswi berharap agar materi ini dilanjutkan agar mereka dapat memahami konsep silek tradisi daerah mereka, dan mengetahui lebih dalam tentang budaya asli mereka dan mempelajari asal-usul mengapa seni bela diri ini sampai menjadi alasan mengapa daerah mereka tidak terjajah lama.